Waktu
kacil hal yang paling aku tunggu-tunggu adalah saat malam datang. Biasanya
kalau ayah lagi nggak capek ayah suka mendongeng, kalau ayah lagi nggak ada bahan cerita,
biasanya mama yang gantian bercerita. Yang paling aku suka,
saat ayah menceritakan pengalaman pribadi ayah, tentang masa kecilnya, masa
remajanya, sampai awal kenal mama dan tentang nenek yang nggak pernah kami
temui.
Kadang juga ayah mendongeng tentang raja-raja. Kadang kalau kehabisan
bahan dongeng ayah biasanya suka ngasih tebak-tebakkan. Ayah itu orangnya
pendiam tapi dalam keluarga beliau ayah yang hangat, ayah suka bermain gitar
dan bernyanyi. Banyak sekali kenangan indah bersama ayah. Ayah suka menemani mengerjakan PR. Ayah yang sedang mengajar itu menakutkan. Ayah juga suka mengajari hafalan surat-surat pendek.
Kenangan yang paling berbekas bersama ayah itu saat aku pergi mencari kepiting bersama ayah waktu itu ayah dengan berani memancing kepiting yang didalam lubang menggunakan jarinya, tapi jari ayah nggak apa-apa. Pernah juga aku pergi mencari ikan malam-malam bersama ayah, kami berjalan sepanjang sungai menuju laut. Dijalan kami menemukan lopster yang besar sekali. Hehe rasanya menyenangkan sekali.
Kenangan yang paling berbekas bersama ayah itu saat aku pergi mencari kepiting bersama ayah waktu itu ayah dengan berani memancing kepiting yang didalam lubang menggunakan jarinya, tapi jari ayah nggak apa-apa. Pernah juga aku pergi mencari ikan malam-malam bersama ayah, kami berjalan sepanjang sungai menuju laut. Dijalan kami menemukan lopster yang besar sekali. Hehe rasanya menyenangkan sekali.
Pernah juga ada kejadian yang sedih saat aku pergi sama ayah. Waktu itu aku dan
ayah pergi mencari kayu bakar, ketika ayah tengah memotong kayu, kapak yang ayah
gunakan copot kepalanya dan mengenai pergelangan tangan ayah, aku takut sekali
waktu itu. Untung disekitar sana ada daun-daunan yang bisa digunakan untuk
obat-obatan, yah walaupun hanya sekedar untuk menghentikan pendarahannya. Tapi
yang hebatnya dalam keadaan seperti itu ayah tetap membawa kayu saat pulang.
Pernah juga aku ingin ikut ayah pergi mencari ikan, tapi ayah nggak izinin waktu itu ayah dan
teman-temannya pergi mencari ikan di laut. Kata ayah jaraknya jauh. Jadi aku nggak boleh ikut.
Ayah juga
pintar masak, bahkan ayah lebih jago masak daripada mama. Masakan ayah sangat enak,
ayah jarang masak. Kadang kalau lagi pengen masak aja baru ayah masak. Aku paling
suka makan kapurung atau papeda buatan ayah, yah walaupun kue lapis buatan ayah
juga nggak kalah enak. Ayah juga suka mengajari kami permainan-permainan
tradisional yang belum kami ketahui. Ayah juga suka membuatkan kami permainan-permainan
dari barang bekas. Ayah hampir nggak pernah marah, tapi sekalinya marah itu
menakutkan. Padahal cuma ditatap saja, tapi rasanya lebih menakutkan dari mama
yang sedang ngomel.
Kadang, aku merasa iri melihat mereka yang masih bisa bercengkerama bersama ayah mereka. Iri melihat mereka yang masih bisa mencium punggung tangan ayah mereka, tapi setelah aku pikir-pikir. Aku bersyukur pernah diberikan kesempatan untuk merasakan indahnya sebuah kebersamaan, bersyukur pernah diberikan kesempatan untuk merasakan bahagianya ditimang. Meskipun semua itu kini hanya menjadi sebuah kenangan dalam hidupku. Setidaknya, aku lebih beruntung dari mereka yang sejak lahir tidak pernah bertemu bahkan tidak mengenal ayah mereka. Setidaknya..., setidaknya aku masih punya kenangan yang bisa aku ingat dan aku kenang disaat hati ini rindu akan sosok itu.... Sosok syahid, yang hanya bisa aku temui dalam mimpi.
I'm happy to be your daughter. And I'm happy to have you as a father. Thank you for being a great dad in my life. Dad, you're my hero...


0 komentar:
Posting Komentar